a journey into me

Advertisements

Backpacker Naik Kelas

Jackpot! The assignment from my boss was to enjoy 5 star The Stones Hotel in Bali. The hotel director communication sent me a confirmation reservation. “Deluxe pool room”, it’s written. Oh yeah baby…

I won a jackpot!

I love to travel, but never care how good or comfort the accomodation I should have. From 5$ room in Laos to cold floor in Munich train station, I am totally fine. That’s the limit I can afford as a backpacker. Though I also enjoy the sensation of survival.

‪#‎Munich… I found empty floor in train station. I hide in side sleeping bag. Surprisingly, when I woke up I found some young travelers did same around me. I survived.

‪#‎Vietnam… We stopped in an empty beach. Opened up our tent and got ready to sleep when a police officer came order us to move 😦 Luckily an owner of small shop around helped us. I (we) survived.

‪#‎Laos… The motorbike broke in the mountain and the sun was set. Luckily we met some locals. Double lucks, though we don’t speak same language, they gave us their only bedroom-pillows-blankets-foods. I (we) survived.

‪#‎Slovakia… We were camping in bank of the river, lake and hills. After 3 days no shower, I sneaked into a hostel to ´borrow´ their bathroom. I was freaking nervous when someone knocked the door. I cleaned and survived.

‪#‎India… Night trains over cities. Oh yeah, I (we) survived.

Now the jackpot lifted me to different level. Cabana pool, thermal pool, spa massage, top 1 chef cooks.

I love the sensation being backpacker. I love to upgrade my travel level in luxury way too, only if I get it for FREE! 🙂

The Bridge Over the Inn

The word “bruck” in modern German word “Brücke” meaning “bridge”. Thus, Innsbruck means “the bridge over the Inn”.

One of the nicest city in Europe in my opinion. Beautiful landscape. The Inn river with mountain view as its background.

It´s a cozy city that rich of histories. In 1429, Innsbruck became the capital of Tyrol and in the 15th century as a centre of European politics and culture.

Though the weather was pretty cold, Innsbruck totally warmed my visit.

Misteri Jam Astronomi Praha

Praha tak seromantis Paris. Pun tak semegah Roma. Tapi, Praha menyimpan keunikan. Kota ini bekas Kerajaan Bohemia. Goresan sejarah ini sukses menyedot ribuan turis manca negara. Nah, Praha pun bertengger di jajaran destinasi wisata terpopuler di dunia setelah London, Paris, Roma, Madrid dan Berlin.

Seberapa hebat Kerajaan Bohemia? Pada abad 14, Kerajaan Bohemia menjadi pusat kekuasaan Kekaisaran Romawi Suci di Eropa Tengah. Kekaisaran Romawi Suci kala itu mencakup hampir seluruh wilayah Jerman, Austria, Liechtenstein, Swiss, Belgia, Belanda, Luxemburg, Slovenia, Republik Ceko, barat Polandia, timur Prancis dan utara Italia.

Sukses Bohemia menguasai Eropa Tengah berkat kepemimpinan Raja Charles IV. Ia lantas menjadikan Praha sebagai ibukota kekaisaran. Tak lama berselang, Charles IV diangkat sebagai raja Kekaisaran Romawi Suci. Ia raja Bohemia pertama yang naik kasta kekaisaran Eropa Tengah.

Era Charles IV pun disebut Golden Era. Pada 1348, dua tahun setelah naik kursi kekaisaran, Charles IV mendirikan Universitas Charles di Praha sebagai universitas pertama di Eropa Tengah. Ia juga membangun Jembatan Charles yang kini setiap harinya padat disesaki wisatawan. Jembatan Charles berdiri menggantikan Jembatan Judith yang hancur dihantam banjir di awal kepimpinannya. Jembatan ini penghubung antara Old Town dan area kastil.

Jam Astronomi Tertua ke-3

DSC03931

Charles IV tutup usia pada 1938. Kepergian sang raja tak lantas meredupkan kilau Praha. Putra Charles IV, Wenceslaus IV, mengambil tampuk pemerintah. Ia makin memoles Praha sebagai kota yang disegani. Salah satunya dengan pembangunan jam astronomi di Old Town Praha.

Jam astronomi Praha atau Praque orloj ini dibangun oleh ahli jam bernama Mikulas of Kadan dan profesor matematika dan astronomi dari Universitas Charles, Jan Sindel, pada 1410. Ketika itu Prague orloj menjadi jam astronomi tertua ketiga di dunia. Kini jam ini tertua satu-satunya yang masih beroperasi.

Ya, setelah 1552, Prague orloj berkali-kali mengalami kerusakan. Setelah dilakukan perbaikan, situs di Old Town ini tetap beroperasi dan menjadi atraksi utawa wisata Praha. Prague orloj beratraksi setiap jamnya mulai pukul 9 pagi hingga 11 malam. Atraksi hanya berlangsung kurang dari semenit, tapi mampu menyedot minat wisatawan.

Keunikan Praque orloj ada pada tiga komponennya. Komponen teratas menampilkan empat figur yang disebut The Walk of the Apostles. Bagian tengah merupakan komponen tertua, yakni perhitungan astronomi berdasarkan posisi Matahari dan Bulan. Bagian terbawah Prague orloj menjelaskan kalendar bulan dan musim. Komponen kalendar dengan simbol 12 zodiak ini baru ditambah pada 1870.

Pertunjukan diawali dengan terbukanya dua buah jendela pada komponen teratas orloj yang menampilkan 12 rasul (Santo Paulus dan 11 rasul Yesus lainnya, minus Yudas yang berkhianat) yang muncul bergantian.

Selain ke-12 rasul, di sebelah kiri orloj berdiri figur kematian yang ditampilkan oleh patung tengkorak memegang sebuah sangkar. Di sebelah ‘kematian’ berdiri figur orang Turki, lambang masyarakat yang hanya ingin bersenang-senang.

Sementara di sebelah kanan berdiri dua figur. Pertama, seorang pria memegang cermin. Ini lambang kesombongan. Figur terakhir menggambarkan orang kikir memegang kantong uang sebagai lambang keserakahan.

Kisah empat figur ini melahirkan legenda pada kalangan masyarakat Praha. Konon, orloj bukan dibuat oleh Mikulas dan Sindel, melainkan oleh ahli jam bernama Hanus yang juga disapa Jan of Ruze. Hanus terpilih oleh anggota dewan Praha.

Karya spektakuler Hanus memuaskan pemimpin dan masyarakat Praha. Prague orloj pun menjadi buah bibir manca negara. Di tengah popularitas ini, masyarakat Praha khawatir Hanus akan menciptakan jam serupa untuk kota lain sehingga bisa mengancam daya tarik Praha.

Lantaran kesombongan dan keserakahan masyarakatnya, Praha mengirim sekelompok orang untuk mengerebek rumah Hanus dan menyerang matanya dengan besi sehingga ia buta.

Hanus mengetahui otak di balik penyerangan itu dan balas dendam. Ia meminta seorang muridnya untuk menemani dirinya ke jantung orloj, lalu ia melemparkan dirinya ke mesin penggerak jam sehingga mesin tidak berfungsi. Ia juga mengutuk Praha akan diserang oleh kematian. Legenda Hanus masih jadi misteri Prague orloj.

Bagaimana membaca Prague orloj?

DSC03924

Jam astronomi yang hampir musnah pada Perang Dunia II karena serangan Nazi ini sesungguhnya menggambarkan persepsi mengenai Alam Semesta di abad pertengahan, yakni Bumi sebagai pusat. Persepsi ini dipaparkan melalui bagian astronomi.

Bagian jam yang berlatar warna biru menunjukkan langit di atas garis cakrawala, sementara bagian di bawah garis cakrawala berwarna coklat dan hitam. Di atas cakrawala, tertulis ORTVS dalam bahasa Latin yang berarti Timur dan OCCASVS (barat). AVRORA (fajar) dan CPEPVSCVLVM (senja) terdapat di bagian bawah.

Penentuan warna-warna tersebut juga menunjukkan posisi matahari. Warna hitam di bawah merujuk pada waktu malam. Warna oranye di sebelah kiri jam menunjukkan subuh dan warna abu-abu bagian kiri saat matahari terbit. Siang hari diwakili dengan warna biru di bagian atas, sementara itu abu-abu bagian kanan berarti matahari tenggelam dan warna oranye menunjukkan senja.

Orloj juga mencakup tiga lingkaran yang menunjukkan tiga informasi waktu yang berbeda. Lingkaran terluar dengan angka Schwabacher menunjukkan Old Czech Time atau Bohemian Time. Lingkaran kedua dengan angka Romawi menunjukkan European Central Time (CET), sementara lingkaran paling tengah dengan angka Arab menunjukkan Babylonian Time.

Bohemian Time

Secara geografis Republik Ceko, Praha terletak di kawasan Bohemia. Masyarakat Bohemia memulai harinya terhitung sejak matahari tenggelam yang setara dengan pukul 24:00.

Pada musim panas, waktu Bohemia terhitung sejak pukul 20:16 ketika matahari tenggelam, dan dimulai pada pukul 16:00 ketika musim dingin.

Karena perbedaan waktu sunset pada dua musim ini, skala waktu Bohemia hanya mengalami perubahan kecil setiap harinya untuk menyesuaikan dengan perubahan sunset.

European Central Time (CET)

Seperti belahan dunia lainnya, CET juga memulai hari pada tengah malam. Prague orloj memiliki dua jarum jam, salah satunya berbentuk golden hand yang menunjuk ke angka Romawi sebagai indikasi CET.

Babylonian Time

Waktu Babylonian terbagi antara sunrise dan sunset dengan pembagian masing-masing 12 jam. Keduanya terpisahkan oleh garis emas antara Tropics of Capricorn dan Tropics of Cancer pada bagian jam.

Pada bagian tengah jam terdapat gambar permukaan Bumi. Di ujung gambar ini melambangkan garis cakrawala Bumi yang terlihat dari Praha, dan di sekitarnya terdapat tiga lingkaran emas. Lingkaran emas yang menyentuh skala angka Romawi teratas mewakili Tropic of Cancer, lingaran kedua yang mendekati tengah mewakili Ekuator, dan lingkaran terluar mewakili Tropic of Capricorn.

Lamanya waktu Babylonia juga tergantung dari musim. Mendekati musim Panas Solstice, pada 21 Juni, waktu Babylonia menjadi 81 menit lebih lama, sementara mendekati musim Dingin Solstice, pada 21 Desember, tambahan waktu hanya 41 menit.

Waktu Babylonia pada orloj terbaca dengan angka Arabic berwarna hitam di dalam skala angka Romawi berwarna emas.

(Telah dimuat di majalah Suara Pemred edisi Oktober 2014)

20150609_140546

Terang Itu Tiur

Namanya Tiur. Ia adalah terang. Sebuah cahaya dari surga bagi anak-anak kampung di sekitar Bantar Gebang, Bekasi. Judul “Terang itu Tiur” terlintas ketika saya menggarap artikel mengenai kisahnya yang menginspirasi.

Usianya baru 24 tahun. Empat bulan pasca-lulus Sarjana-1 ia mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak miskin. Gratis, tanpa bayaran. Sebagai bonus anak-anak dibekali snack setelah belajar selama dua jam di sebuah aula kosong milik gereja setempat.

Terlintas, saya menerka, “gila, tajir banget si Tiur”. Bicara tajir, Tiur punya hati yang “kaya”. Secara finansial ia pas-pasan. Trus, gimana ia menjalankan sekolah gratisnya? Sekolah bernama Rumah Belajar Bekasi ini beroperasi dari kantong pribadinya hasil bekerja di sebuah production house, tambahan penghasilan mengajar tari balet pada hari Sabtu, dan donasi dari teman-temannya.

Hebat bukan? Ingat, sekali lagi, ia baru 24 tahun. Oktober 2014 ia baru menamatkan S-1. Sama seperti saya, lulus Oktober silam. Sehebat Tiurkah saya?

Keinginan merangkul anak-anak jalanan dan berbagi sedikit ilmu pendidikan itu ada sejak anak-anak imigran sumber thesis saya mengetuk hati saya. Tapi, keinginan itu belum menjadi nyata.

“Hidup itu pilihan Kak, ada risikonya,” ucap Tiur malam itu kepada saya.

 

25 April 2013

“STRANGER things have happened. It’s never too late to start anything, unless you’re dead. I’m proud you’ve had the courage to try and do something aboard,” bilang Matt Ross, teman saya yang tengah berdomisili di China.

25 APRIL 2013, MILAN, ITALIA.

Hari ini pertama dalam hidup saya tampil di depan ratusan orang. Dan, kali pertama dalam hidup saya juga tampil sebagai penari. Menari satu hal yang tak pernah terlintas dalam benak saya. Kali ini, kesempatan ini, saya melenggak sebagai penari Bali, tarian yang semasa SD saya lihat sebagai tarian terkeren ketika pentas seni diadakan.

Festival dell’Orientale 2013 di Parco Esposizioni Novegro, Milan, mengores satu kisah baru dalam perjalanan saya di Italia. Satu tarian, Panyembrama, dalam dua panggung, setelah delapan kali latihan selama dua minggu. It’s a wrapped. I did it though I made two mistakes during the dance in two different stages. “I’m glad you weren’t deterred by your mistakes and you stood up to try again. You make me proud to know you,” said Matt.

Indeed, I’m proud of myself too. Saya bangga bisa membayar kerjakeras latihan. Saya bangga mengalahkan rasa gugup di panggung. Terutama, saya bangga bisa memperkenalkan budaya Indonesia di Italia. I felt honored being participant in this annual cultural event and watched many professional dancers from around the world. This was unforgettable experience in my life story. So, grazie mille a tutti per invitarmi come uno dei rappresentanti di Indonesia e mi sostenere.

What’s Wrong With Me?

Tasteless. Rasa itu tak lagi mendominasi. Tak ada gairah, bahkan untuk sekadar melihat. Ketika cerita itu bergulir deras dari bibir seorang teman dua pekan lalu, saya hanya mendengar. Mendengar tanpa gejolak. Mimpi kecil saya telah sirna. Mati.

Italia, Austria, Polandia. Ketiganya mendapat kehormatan sebagai arena perang raja-raja Eropa beradu strategi. Italia 1968 & 1980, Austria 2008 dan Polandia 2012. Tapi, ketiganya hanya saya jejaki tanpa bekas. Tak ada kisah perwujudan cerita masa kecil yang sempat saya rangkai dan menari-menari di benak andai saya benar menjejakkan kaki di benua biru ini. Tak ada cerita gulatan emosi ketika andai saya menginjakkan kaki di panggung para aktor itu mengolah si kulit bundar.

Kecewakah saya karena Roma, Milan, Vienna dan Warsaw ternyata tidak (belum) memuaskan batin saya? Sudah berubahkah mereka sehingga saya tak lagi tertarik? Atau lebih tepatnya saya lontarkan pertanyaan: “What’s wrong with me?”

Does everyone change? So do I?

Imposibble is Nothing, Sometimes It Just Takes Longer

“IMPOSIBBLE is nothing, sometimes it just takes longer… 24.10.2012. Bi²”. Untaian kata ini salah satu kado ulangtahun saya di 2012 ini. Kado sederhana dari Bi yang akan menguatkan saya ketika lagi down. Seperti yang sedang saya rasakan hari ini. Dan, seperti 11 bulan yang lalu.

Tepatnya, Jumat (16/12), tahun 2011. Email dari Istituto Italiano di Cultura (IIC) Jakarta, bak petir di siang bolong. Saya bengong menatap layar si Acer meski baru menangkap segelintir kata-kata berbunyi penyesalan dari Pemerintah Italia. Otak saya seketika mencium gelagat buruk meski belum membaca email itu dengan jelas.

Jreeng… Beasiswa kursus 3 bulan Bahasa Italia saya di Universita per Stranieri di Perugia pada April 2012 mesti ditunda. Pemerintah Italia lagi kebat-kebit memangkas pengeluaran negara. Imbasnya, dana jatah beasiswa jadi korban. Beasiswa saya pun harus diundur hingga 2013.

Kecewa. Sedih. Kesal. Setelah perjuangan melewati beberapa tahap seleksi dan penantian selama setahun, mimpi saya menjejaki Italia terancam melayang karena krisis ekonomi Eropa. Tangis saya pun pecah, sementara Bi mendengar dengan sabar di ujung telepon. Hanya kata-kata penguat yang terlontar dari bibirnya. Kata-kata itu juga yang membuka jalan lain buat saya kembali berjuang meraih mimpi ini hingga terwujud dalam bentuk yang berbeda: dua tahun beasiswa master.

Langkah saya menuju mimpi ini berawal dari pesan seorang teman, Eka, yang tengah kuliah di Universita della Calabria (Unical). Awalnya, saya sudah tak bernapsu dengan beasiswa Unical. Kekecewaan saya terlalu besar. Tapi Bi menyuntikkan motivasi “main lotre” lewat program Erasmus Mundus. Bermodal nekad, dengan Toefl pas-pasan, saya mengajukan diri di Erasmus Mundus, dan juga Unical.

Modal nekad saya ternyata tak percuma. Setelah dua bulan dalam penantian, email dari Unical muncul di inbox saya. Diterima! Allora, sono qui, sekarang di sinilah saya! Sekarang saya sudah memasuki bulan ketiga meniti mimpi di Eropa, tepatnya di Italia, mimpi yang sudah terpatri di benak saya sejak usia 15 tahun.

Italia, finalmente

As a new student of Universita della Calabria 🙂

Konon kekecewaan selalu datang terlambat, tapi kekecewaan bisa jadi motivasi menuju sukses yang tertunda. Dalam kasus saya, instead of 3 months course, I got 2 years study in master! Now I believe it’s just matter a of time.

“Impossible is nothing, so, lets keep on fighting Bi, because sometimes it just takes longer…” (Bi4Bi)

Trekking Ceria to Kawah Ratu: “Tiada Aku dan Kamu, hanya Kita dan Alam” (Kawah Ratu, Mount Salak, West Java-Indonesia)

“GIMANA kalo naik tronton?” bunyi sepenggal email Kopatrek (Komandan Pasukan Trekking) Ceria Warna-Warni Rudy Priyanto.

Tujuh huruf berbentuk truk gaban milik Brimob itu langsung menguasai benak saya. Otak saya mulai berkalkulasi: “Kapan ya terakhir saya naik tronton?” Setelah menimang sesaat, sekelebat cerita berseragam putih plus sabuk kuning menari di benak saya. Ah, terakhir saya nangkring di tronton pas SMP kelas 1. Bukan bareng sekolah, tapi di bawah payung perguruan Kung-Fu Naga Mas Lemigas.

Kala itu si tronton membawa kami dari Jakarta, tepatnya Cipulir, ke Cibodas. Misi kami menjalani ujian kenaikan tingkat. Sesak, panas, dan ajrut-ajrutan ala tronton Naga Mas masih bisa saya hirup dan rasakan. Lengketnya tumpahan air jahe teman sepeguruan sekaligus senior di sekolah masih terasa di kulit ini.

“Ramuan pelecut stamina,” katanya. Huh, bagi saya sih: ramuan musibah. Musibah buat saya yang keguyur lantaran ajrut-ajrutannya si tronton mengganggu ritual minum teman sepeguruan saya itu.

Hm, cukup bernostalgia dengan si tronton Naga Mas. Saya penasaran kisah apa yang ditawarkan si tronton Ceria, akan ceria kah?

JUMAT (15/4)

Start at 6.15pm in Stasiun Kota

Entah pertanda si tronton Ceria bakal berulah atau bukan, belum juga kenalan, saya yang meluncur ke Bogor bareng Jeanny dan Mala udah ajrut-ajrutan dan berpeluh keringat di dalam kereta Express AC Kota-Bogor.

Si Express nyatanya tak gesit sama sekali. Instead of 1 hour journey, kami terjebak di kereta 3 jam karena gangguan sinyal pasca petir. Si AC pun ternyata cuma ‘angin cepoi-cepoi’. Di 1,5 jam perjalanan pertama saya masih senyam-senyum meladeni kebohongan Express AC. Tapi, begitu masuk ke stasiun Depok Baru, saya ngedeprok di lantai, di antara kaki-kaki penumpang hawa. “Maaf ibu, tante, kakak. Saya ngga kuat lagi. Seharian cuma modal sarapan doang.”

Sesampainya di stasiun Bogor, setelah selesai bergulat dengan Express AC secara emosional, giliran saya dan pasukan CWW pimpinan Kopatrek Rudy tanding fisik sama si tronton Ceria. Ah, tak sabar saya. Benar saja, nyatanya, ajrut-ajrutan si tronton Ceria lebih yahud. Apalagi, pas tukingan tajam menanjak ke kiri sekitar pukul 1 dinihari, asoy cuuuy… Asoy-nya lagi si tronton Ceria mogok ngrok ngroook tak jauh dari basecamp yang kami tuju. Ngedeprok di pinggir jalan pukul 1.30 dinihari, plus tusukan angin malam pegunungan, siapa yang bisa nandingin, eh?

Si tronton Ceria

Untunglah si tronton Ceria ngga ngambek lama-lama. Begitu ‘keceriaannya’ balik, pasukan CWW meluncur ke basecamp villa, eh kos-an menurut Eno, di kawasan Gunung Salak. Sampai di ‘kos-an’, saya dan beberapa pasukan lainnya memburu warung sebelah. “Indomie, pleaaaseee…” Ah, bahagia sekali perut saya menemukan semangkuk indomie. Dingin-dingin, perut kenyang, tidur pun tenang.

“See you tomorrow. Night.”

SABTU (16/4)

Mulai

Bermodalkan informasi dasar mengenai trekking dan medan yang dituju dari Kopatrek Rudy, plus dua bakwan kering bikinan si ibu warung sebelah, saya menguntit rombongan menuju Kawah Ratu di Gunung Salak,Bogor.

Dari keterjalan medan, menurut saya, jalur yang kami lalui tak terlalu terjal. Tapak langkah kami masih manusiawi, ngga perlu mendaki dengan langkah lebar-lebar. Setidaknya, bila saya bandingkan dengan jalur Ijen yang curam buat pemula macam saya. Masalahnya,medan di Gunung Salak sarat bebatuan. Nah, ini yang bikin keblinger. Telapak kaki saya serasa dapat ‘bonus’ refleksi melancarkan peredaran darah selama enam jam perjalanan bolak-balik. Belum lagi jalurnya sempit, hanya cukup satu orang, plus beberapa spot yang becek bercampur lumpur. Terpaksa deh saya repot sendiri mencari pijakan tepat biar si pinky Puma kesayangan ngga dekil kena lumpur. Yah, pas berangkat sih, si pinky aman. Eh, di rute pulang, *sleb..sleb..sleb* berkali-kali saya salah mengambil keputusan melangkah. Batu pijakan kurang kukuh. Ambles deh si pinky masuk lumpur.

she was beautiful, now…

Sedih sih ngeliat nasib si pinky. Selama ini saya benar-benar menjaganya. Andai saya bawa si Ando, sandal ajaib penyelamat saya selama 1,5 bulan nangkring di motor menyisir Laos dan Vietnam (read previous story: “INDIA: Saya, Dia, dan Si Enfield”),  mungkin si pinky masih cantik.

Well, meski si pinky jadi korban kesalahan saya (hiking kok pake sepatu running) but its worth it. Trekking 10 km (bolak-balik) menuju Kawah Ratu selama 6 jam, pengalaman yang menyenangkan. Gairah saya balik menyatu dengan alam tersalurkan. Hm, saya teringat terakhir kali saya trekking pada September 2010 menuju Kudle Beach di Gokarna, India Selatan. Ingat, Jeanny? What a day! (read previous story: “INDIA: Gokarna (Part 1): Our Story of One Hour Sacrifies in Middle of Night to Reach Kuddle Beach”)

Akhir pekan ini selain memuaskan gairah menghirup udara segar, saya kembali terkagum-kagum atas goresan indah tangan Tuhan di alam ini. Kawah Ratu is fabulous, teman! Pemandangannya eksotis. Batang-batang pohon yang menancap di dalam kebulan air berasap memberi kesan gothic. Terletak pada ketinggian 1.338 meter di atas permukaan laut, kawah ini pun masih aktif dan mengeluarkan gas alam sulfida (H2S). So, siap-siap dengan bau yang menyengat. Malah, kadang kawah ini mengeluarkan suara gemuruh yang disebabkan semburan uap air panas yang membentuk kabut. Tapi, aktivitas ini tak mengganggu kehidupan lingkungan di sekitarnya. Makanya, trekking ke Kawah Ratu salah satu sasaran penikmat alam dari kota-kota tetangga Bogor.

Trekking yang bikin telapak kaki panas dan otot paha menegang ini makin worth it dengan desiran aliran air di beberapa sungai yang kami lewati. Desirannya bikin hati adem. Dan, trip ini lebih ceria karena saya mendapat sekumpulan kenalan baru. Well, harus diakui ini kali pertama saya joined acara jalan-jalan bareng group. Meski saya member sebuah backpacker’s community sejak 2007, saya terbilang malas kumpul-kumpul. Biasanya saya jalan hanya dengan 1-2 teman dekat. Tapi, pengalaman pertama ini cukup berkesan.

So, it is appropriate that I thank you all. Ya, thanks to Kopatrek Rudy for arranged the trip. Thanks (again as always) to my sister Jeanny who invited me and patiently took my pictures :). Thanks to bang Syifa who gave me Ritz while I was starving in the middle of journey, though I believed it belongs to mba Tia (hehe). Thanks to Eno and Indri who gave me the mask. Thanks to Erick who helped me when I felt down near Kawah Ratu (tujuan udah di depan mata masih aja jatuh). Thanks to all of you who helped me get in to the tronton. And, thanks to everyone who shared your stories, chit-chat (though short), and smiles during this short trip.

Selesai